BAB I . MENJADI WIRAUSAHA
1.1.
Sejarah kewirausahaan
Wirausaha
secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada
tahun 1755.
Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16,
sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Beberapa istilah
wirausaha seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer.
Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara
seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas
yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an,
hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI
Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau
perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan
seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan
formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan
menjadi berkembang.
1.2. Pengertian Kewirausahaan
Secara
Etimologi kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira
berarti pejuang, pahlawan, manusia
unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha adalah
perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang
atau pahlawan yang berbuat sesuatu.
Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha
adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam
kehidupan.Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik
dalam menjalankan sesuatu.Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan
usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Kewirausahaan memiliki arti yang
berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat
dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan
kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang
wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada
masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih
menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian.
Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan
mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut
Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan
untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum
terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi
produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan
untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan
kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul
pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara
berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi,
panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai,
sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.
Wirausaha
adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai
kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang
dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam
rangka meraih sukses.
Kewirausahaan
pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan
dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.
Wirausahawan
adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai
kesempatankesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang
dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta
memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam
dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.
1.3.
Hakikat
Kewirausahaan
· Kewirausahaan
merupakan suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber
daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis.
· Kewirausahaan
merupakan suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan
mengembangkan usaha.
· Kewirausahaan
merupakan suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan
berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
· Kewirausahaan merupakan kemampuan untuk menciptakan
sesuatu yang baru dan berbeda.
· Kewirausahaan
merupakan suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan
persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha
· Kewirausahaan
merupakan usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan
sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan
1.4.
Proses kewirausahaan
Menurut Carol Noore yang dikutip oleh
Bygrave, proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut
dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar
pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan.
Faktor-faktor tersebut membentuk ‘’locus of control’’, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang
kemudian berkembangan menjadi wirausahawan yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi
oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control,
toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal
dari lingkungan yang memengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan
peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui
proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi, dan keluarga.
1.5.
Ciri-ciri dan Sifat kewirausahaan
Untuk dapat mencapai tujuan yang
diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki
sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausaha adalah:
- Percaya diri
- Berorientasikan tugas dan hasil
- Pengambil risiko
- Kepemimpinan
- Keorisinilan
- Berorientasi ke masa depan
- Jujur dan tekun
Sifat-sifat
seorang wirausaha adalah:
- Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
- Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
- Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
- Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
- Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
- Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
- Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.
1.6.
Tahap-tahap kewirausahaan
Secara umum
tahap-tahap melakukan wirausaha:
·
Tahap memulai
Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan
usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat
peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi,
atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan
dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.
·
Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya,
mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan
yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran,
dan melakukan evaluasi.
·
Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis
perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang
dihadapi.
·
Tahap mengembangkan usaha
Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif
atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi
salah satu pilihan yang mungkin diambil.
1.7.
Sikap wirausaha
Dari daftar ciri dan sifat watak
seorang wirausahawan di atas, dapat kita identifikasi sikap seorang
wirausahawan yang dapat diangkat dari kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:
- Disiplin
Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan
harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri
adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya.
Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu,
kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya. Ketepatan terhadap waktu,
dapat dibina dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan
sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sifat sering menunda pekerjaan dengan
berbagai macam alasan, adalah kendala yang dapat menghambat seorang
wirausahawan meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas
pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan akan komitmen tersebut.
Wirausahawan harus taat azas. Hal tersebut akan dapat tercapai jika
wirausahawan memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah
ditetapkan. Ketaatan wirausahawan akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya
adalah contoh dari kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.
- Komitmen Tinggi
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang
dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam
melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang
jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen
terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan
dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen
wirausahawan terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima
yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan
harga produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan
sebagainya.Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya
terhadapkonsumen, akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya
wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen, dengan dampak
pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target perusahaan
yaitu memperoleh laba yang diharapkan.
- Jujur
Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang
dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat
kompleks. Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang
ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai
pelayanan purnajual yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang
terkait dengan penjualan produk yang dilakukan olehwirausahawan.
- Kreatif dan Inovatif
Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan
harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut
sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan
baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.
Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk
ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yangmemberikan
terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh
gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.
- Mandiri
Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut
dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain
dalammengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya,
tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak
yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Pada prinsipnya seorang
wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.
- Realistis
Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu
menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap
pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya. Banyak seorang
calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami
kegagalan hanya karena wirausahawan tersebut tidak realistis, obyektif dan
rasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya. Karena itu dibutuhkan
kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan/ sumbang saran yang
ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.
1.8.
Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha
Menurut Zimmerer (dalam Suryana,
2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam
menjalankan usaha barunya:
- Tidak kompeten dalam manajerial.
Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil.
- Kurang berpengalaman
Baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan
mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi
perusahaan.
- Kurang dapat mengendalikan keuangan.
Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang
paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran
dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas menyebabkan
operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
- Gagal dalam perencanaan.
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan,
sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
- Lokasi yang kurang memadai.
Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan
perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
- Kurangnya pengawasan peralatan.
Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas.
Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak
efektif.
- Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha.
Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan
mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap
setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
- Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan
perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam
berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu
membuat peralihan setiap waktu.
1.9.
Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional
Seorang wirausaha berperan baik secara
internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam
mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan
diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang
wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja.
Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh
seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang. Menurunnya
tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli
masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak
pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh
karena tingginya pengangguran.
Seorang wirausaha memiliki peran sangat
besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu
negara adalah:
- Menciptakan lapangan kerja
- Mengurangi pengangguran
- Meningkatkan pendapatan masyarakat
- Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
- Meningkatkan produktivitas nasional
Salah satu permasalahan bangsa yang
sulit dipecahka nadalah tingginya angka pengangguran yang jumlahnya terus
meningkat dari tahun ke tahun. Data BPS pada tahun 2010 menunjukkan ada 8.32
juta pengangguran atau setara dengan 7.14 persen dari jumlah penduduk Indonesia
yang mencapai 237.8 juta orang. Dengan jumlah pengangguran sebesarini,
masyarakatIndonesia tidak bisa terus menerus memegang prinsip sebagai pencari
kerja,tetapi harus mulai berubah menjadi pemberikerja,sehingga kewirausahaan
merupakan cara tepat mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan negara-negara lain. Data BPS menyebutkan pengusaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Padahal idealnya sebuah negara minimal harus memiliki pengusaha 2%.Sebagai perbandingan, AS memiliki pengusaha 12%, Singapura 7%, Cina 10%, India 10% dan negara G-20 rata-rata 5% (Kompas.com). Dalam kondisi sepertiini, pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu bersinergi untuk mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan di masyarakat.Cara-cara proaktif yang dapat ditempuh untuk mendorong laju kewirausahaan nasional di antaranya meningkatkan kemampuan masyarakat (capacity building)dalam rangka pemberdayaan masyarakat, menghubungkan sektor ekonomi rakyat dengan lembaga-lembaga perbankan agar mendapatkan pelayanankeuangan, dan pemberdayaan pemasaran dalam bentuk promosi produksi melalui even-even pameran baik di tingkat lokal, provinsi, nasional, maupun internasional.
Jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan negara-negara lain. Data BPS menyebutkan pengusaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Padahal idealnya sebuah negara minimal harus memiliki pengusaha 2%.Sebagai perbandingan, AS memiliki pengusaha 12%, Singapura 7%, Cina 10%, India 10% dan negara G-20 rata-rata 5% (Kompas.com). Dalam kondisi sepertiini, pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu bersinergi untuk mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan di masyarakat.Cara-cara proaktif yang dapat ditempuh untuk mendorong laju kewirausahaan nasional di antaranya meningkatkan kemampuan masyarakat (capacity building)dalam rangka pemberdayaan masyarakat, menghubungkan sektor ekonomi rakyat dengan lembaga-lembaga perbankan agar mendapatkan pelayanankeuangan, dan pemberdayaan pemasaran dalam bentuk promosi produksi melalui even-even pameran baik di tingkat lokal, provinsi, nasional, maupun internasional.
Menurut Kartasasmita (1996),
pemberdayaan masyarakat secara praktis merupakan upaya pengerahan sumber daya
untuk mengembangkan potensi ekonomi rakyat akan berakibat meningkatkan
produktivitas rakyat dan mampu secara partisipatif menghasilkan dan menumbuhkan
nilai tambah ekonomis. Dalam pemberdayaan masyarakat, kemandirian merupakan
suatu hal penting yang perlu diperhatikan sehingga meningkatkan capacity
building menjadi langkah tepat untuk memandirikan masyarakat. Pemerintah
bisa menjalin kerja sama dengan swasta atau daerah untuk menyelenggarakan
pendidikan nonformal yang mendidik pencari kerja menjadi wirausaha yang memberikan
berbagai ilmu kewirausahaan seperti keterampilan manajerial, teknis,
kewirausahaan lokal, dan yang tak kalah penting sikap, mental/kepribadian, dan
polapikir wirausaha.
Kebijakan dalam program permodalan juga harus dapat memikat masyarakat untuk membuka usaha. Skema pembiayaan yang lunak dan tanpa jaminan perlu dirancang dan disosialisasikan agar masyarakat mau mengembangkan usaha secara mandiri, kreatif, dan inovatif. Selain itu, kerja sama antara mahasiswa/pelajar, pelaku bisnis, dan pemerintah penting dibangun untuk melancarkan kegiatan promosi/pemasaran produk kewirausahaan. Masyarakat secara aktif perlu mencari tahu agenda even/ajang lokal, nasional, dan internasional yang dapat dimanfaatkan dalam pemasaran.Di sini, akses ke dunia maya perlu dipastikan lancar karena belakangan ini selain digunakan untuk mencari informasi juga digunakan sebagai media pemasaran dalamdunia bisnis.
Bygrave (2004) mengatakan wirausaha adalah pencipta kekayaan melalui inovasi, pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja keras dan pengambilan risiko, sehingga wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada untuk memulai menjadi wirausaha. Moratorium pengiriman TKI yang saat ini akan dilakukan misalnya, dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kewirausahaan. Jangan sampai Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah terbelakang dalam dunia usaha karena sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan pengusaha asing, apalagi dalam konteks globalisasi seperti sekarang.
Kebijakan dalam program permodalan juga harus dapat memikat masyarakat untuk membuka usaha. Skema pembiayaan yang lunak dan tanpa jaminan perlu dirancang dan disosialisasikan agar masyarakat mau mengembangkan usaha secara mandiri, kreatif, dan inovatif. Selain itu, kerja sama antara mahasiswa/pelajar, pelaku bisnis, dan pemerintah penting dibangun untuk melancarkan kegiatan promosi/pemasaran produk kewirausahaan. Masyarakat secara aktif perlu mencari tahu agenda even/ajang lokal, nasional, dan internasional yang dapat dimanfaatkan dalam pemasaran.Di sini, akses ke dunia maya perlu dipastikan lancar karena belakangan ini selain digunakan untuk mencari informasi juga digunakan sebagai media pemasaran dalamdunia bisnis.
Bygrave (2004) mengatakan wirausaha adalah pencipta kekayaan melalui inovasi, pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja keras dan pengambilan risiko, sehingga wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada untuk memulai menjadi wirausaha. Moratorium pengiriman TKI yang saat ini akan dilakukan misalnya, dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kewirausahaan. Jangan sampai Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah terbelakang dalam dunia usaha karena sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan pengusaha asing, apalagi dalam konteks globalisasi seperti sekarang.
Definisi
Istilah:
·
Locus
of control : Seberapa jauh individu yakin bahwa mereka
menguasai nasib mereka sendiri.
·
Franchise: Duplikasi bisnis yang telah
sukses, sehingga bagi mereka yang akan membeli bisnis franchise tidak perlu lagi
bersusah payah menjalankan bisnis ini dari awal dan tidak perlu harus jatuh
bangun untuk memulai bisnis ini.
·
Promosi : bentuk komunikasi pemasaran yang
berupa aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi
atau membujuk dan mengingatkan pasar atas perusahaan atau produknya agar
bersedia menerima, membeli dan loyal kepada produk yang ditawarkan perusahaan
yang bersangkutan.
BAB. II. POLA PIKIR WIRAUSAHA
Berbicara
tentang kewirausahaan, menurut penulis adalah berbicara tentang mindset (pola
pikir) dan method (sistem kerja, langkah, prosedur, tehnik). Tulisan kali akan
membahas mengenai pola pikir wirausaha yang dikembangkan dari pemikiran Neal
Thornberry. Menurut Neal Thornberry[1], Pola pikir wirausaha melibatkan 10
kualitas, sebagai berikut (yang akan coba dikupas lebih dalam oleh penulis)
1. Memiliki Locus of Control Internal
Locus of
Control (lokus kendali) adalah istilah untuk menggambarkan bagaimana seseorang
berpikir tentang kendali hidupnya. Seseorang yang memiliki kendali eksternal,
adalah mereka yang merasa bahwa hidupnya dikendalikan oleh faktor-faktor diluar
dirinya, seperti cuaca, kebijakan pemerintah, keluarga, pacar, peraturan kantor
dan lain-lain. Sehingga mereka hanya punya sedikit sekali punya kontrol
terhadap kehidupannya. Mereka cenderung pasrah, dan mengikuti ‘kehendak’ di
luar dirinya. Sebagai contoh “wah hujan nih, mau gimana lagi, sudah pasti kita
tidak bisa belajar dengan konsentrasi, habis hujan..” dan sebagainya. Intinya,
hidup mereka dikendalikan oleh daya-daya diluar dirinya, dan mereka meyakini
bahwa tidak banyak yang mampu dilakukan untuk mengatasinya. Sebaliknya kendali
internal (internal locus of control) adalah pemikiran bahwa kita adalah pusat
kendali. Cuaca boleh hujan, namun kita tetap punya kontrol penuh untuk membuat
hati kita sedih/senang karena adanya hujan tersebut. Seorang wirausaha,
diyakini memiliki kendali internal tersebut. Mereka yakin bahwa dirinyalah
pusat kendali, bukan atasan, cuaca, kebijakan pemerintah dll.
2. Memiliki toleransi untuk ambiguitas
Beberapa ahli
sering mengatakan bahwa salah satu blok kreativitas adalah keenganan untuk
berbeda, kemalasan untuk mencari yang tidak biasa dan ketidakbersediaan untuk
bermain-main dengan sesuatu yang menurut orang kebanyakan ganjil. Sebaliknya,
seorang wirausaha memiliki toleransi untuk berbuat berbeda dan melanggar
hal-hal yang dianggap pakem. Sebagai contoh: pakem yang umum buat mereka yang
ingin membuka restoran adalah; bukalah di tempat yang ramai. Namun demikian,
saat ini sudah sangat banyak contohnya dimana restoran yang dibuka di tempat
terpencil (jauh diatas gunung, di pulau, di tengah sawah, dll) justru diserbu
oleh pelanggannya.
Seorang
wirausaha sejati sangat mengenal dirinya, dan ia menyadari bahwa dirinya
bukanlah dewa. Ia sangat sadar akan kelebihan dan potensi, dan juga terkait
hal-hal yang kurang dikuasainya. Oleh karena itu, mereka selalu siap untuk
berbagi pikiran dan wawasan, serta mengisi kekosongan-kekosongan dalam
usahanya. Sebagai contoh, beberapa orang mahasiswa yang membuka bisnis cuci
motor, sangat sadar akan keterbatasannya dengan cairan kimia sabun. Oleh karena
itu, mereka ikhlas bekerja sama dengan mahasiswa kimia/farmasi untuk
menghasilkan formula sabun yang tidak panas ditangan, wangi dan tahan lama
bersihnya. Satu hal adalah bahwa, mereka tidak pernah takut tersaingi.
Sebaliknya, mereka sangat sadar bahwa sinergitas akan menghasilkan jauh lebih
banyak dari yang dapat dibayangkan. Sinergi bukanlah satu ditambah satu sama
dengan dua, namun satu ditambah satu bisa menjadi tiga, tujuh atau bahkan
sebelas.
4. Konsistensi untuk selalu berkreativitas, membangun dan mengubah
berbagai hal.
Begitu
seseorang berkecimpung dalam dunia wirausaha, maka seyogianya ia harus siap
berenang dalam kreativitas. Hal ini sangat bisa dimaklumi,mengingat beberapa
peluang bisnis, terutama yang pintu (entrance) untuk memulainya tidak
sulit untuk dibuka (tidak butuh keterampilan khusus, tidak butuh modal besar
dll), akan sangat mudah dipenuhi oleh para pemula (start-up). Sehingga yang
tadinya bisnis baru tersebut berada di lautan biru (blue ocean) dalam waktu
singkat ia harus berdarah-darah di lautan mera (red ocean) karena ratusan
pesaingnya saling berebutan kue. Lalu bagaimana caranya bertahan dalam lautan
darah seperti itu? Satu hal, yaitu konsistensi untuk selalu berkreativitas.
Perusahaan waralaba ayam KFC, adalah contoh yang bisnis yang memiliki
konsistensi untuk selalu berkreativitas. Hampir setiap bulan mereka selalu mengeluarkan
paket-paket baru, seperti paket hemat plus CD musik, burger dengan harga
terjangkau, paket ulang tahun, paket porsi anak-anak plus mainan anak (biasanya
tokoh film kartun tertentu), interior ruangan yang selalu update dan dilengkapi
taman bermain mini dll. Belum ditambah jika memasuki bulan ramadhan, maka KFC
dengan kreativitasnya yang tinggi, akan meluncurkan paket sahur, paket berbuka,
paket berdua dll. Dengan itu semua, daya tahan sebuah bisnis terhadap
persaingan menjadi semakin kuat. Ia tidak akan mudah runtuh terhadap serbuan
kompetitor yang semakin dasyhat.
5. Dorongan yang kuat untuk peluang dan kesempatan
Mata seorang
wirausaha, adalah seperti mata elang. Mereka selalu awas terhadap
peluang-peluang baru. Mereka –dengan kemampuan intuisinya yang selalu ditempa-
mampu membaca trend jaman. Salah satu contoh kepekaan ini adalah apa yang
dilakukan oleh Trans Corp dengan Proyek Trans Studionya. Mereka melihat
kesempatan yang besar pada bisnis hiburan di Bandung Ibukota Jawa Barat. Jumlah
penduduk yang berjumlah kurang lebih 40 juta ditambah penghuni Jabodetabek yang
sekitar 20 juta, menjadi alasan yang sangat kuat untuk mendirikan kawasan
terpadu yang sarat hiburan kelas dunia untuk keluarga. Inilah mata elang
wirausaha. Mereka mampu melihat peluang dan berani mengambil tindakan untuk
menangkapnya.
6. Rasa urgenitas yang tinggi.
Para tokoh
bisnis sering mengatakan pameo ini “inovasi atau mati”. Apa artinya? Artinya
adalah bahwa inovasi sudah merupakan sesuatu harga mati, ini adalah sesuatu
yang urgen dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Mengapa? Karena kompetitor begitu
banyak dan pasar sangat haus terhadap inovasi baru. Mari kita lihat trend pasar
telepon selular. Inovasi yang terjadi disini dapat dikatakan hampir terjadi
setiap hari. Jika kita membaca surat kabar, maka sangat mudah ditemukan iklan
yang mengabarkan teknologi terbaru dari sebuah telepon selular. Inilah bentuk
dari urgenitas yang sangat tinggi. Para pelaku alat telekomunikasi canggih
tersebut sangat paham, bahwa lengah satu langkah dapat berarti ancaman
kebangkurtan (ditinggalkan pelanggannya).
7. Perseverance.
Mereka menjaga
dan memelihara idenya untuk kemudian diwujudkan. Beberapa orang hanya berhenti
pada level menemukan ide baru. Namun, para wirausahawan sejati, mereka
memelihara, mengembangkan dan berusaha mewujudkan ide tersebut. Nurfitira
Khoirunnisa[2]
adalah contoh yang baik untuk menjelaskan karakter ini. Ia memiliki ide untuk
membuat penghapus elektrik gara-gara badannya yang kurang tinggi, sehingga
tidak dapat menjangkau seluruh bagian papan tulis di sekolahnya. Berkaca dari
situasi itu, ia dan rekannya kemudian berusaha menciptakan penghapus elektrik.
Inilah contoh preserverasi, yaitu usaha untuk menemukan ide baru kemudian
berusaha mematangkan dan mewujudkannya.
8. Resilience (ketahanan).
Wirausaha yang
tangguh memiliki sikap seperti boneka anak-anak yang jika dipukul selalu
kembali ke posisi semula. Inilah kewirausahaan yang sesungguhnya. Tidak ada
satupun usaha yang tanpa penghalang dan tanpa hambatan. Namun, daya tahan ini
akan mengembalikan kita kembali ke posisi semula. Sudah terlalu banyak para
pelaku usaha mental dan jatuh diterjang angin. Namun tidak terlalu banyak yang
kemudian dapat kembali ke posisi semula. Inilah sikap ketahanan yang perlu
dimiliki setiap kita yang sadar bahwa hidup adalah perjuangan, dan perjuangan
selalu memerlukan kekuatan untuk bangkit setelah jatuh dan bangun setelah
terjerembab oleh kerasnya kehidupan.
9. Optimis.
Optimis,
secara sederhana dapat diartikan sebagai lompatan dari satu aktivita ke
aktivitas lain, tanpa kehilangan antusiasme. Optimis adalah juga bentuk
keyakinan bahwa tujuan akan tercapai dan target akan terpenuhi dengan kekuatan
sendiri. Mungkin para pembaca mengenal sosok Jerry Aurum, seorang fotographer
ternama. Ia adalah contoh seorang wirausaha yang sangat optimis dan yakin
dengan kapabilitas yang dimilikinya. Saat ini, berbagai institusi, dan
perusahaan besar di Indonesia sudah menggunakan jasanya[3]. Optimisnya
antara lain dibuktikan dengan kegigihannya dalam memulai usaha fotographinya.
Ia mengirimkan 500 eksemplar kalender ke berbagai perusahaan di Indonesia yang
berisi foto-foto hasil karyanya. Dengan rasa optimisnya, ia beranggapan bahwa
minimal pasti ada satu dua perusahaan yang akan menggunakan jasanya. Hal itu
kemudian terbukti, dan akhirnya berbagai tingkatan klien berlomba-lomba
menggunakan jasanya.
10. Rasa humor tentang diri sendiri.
Ini adalah
bentuk rasa besar hati. Kemampuan mentertawakan diri sendiri adalah salah
bentuk kapabilitas untuk mengkoreksi dan bahkan mengkritik diri sendiri. Ini
adalah sebuah rasa legowo untuk tidak menilai diri sendiri sudah mencapai
prestasi yang optimal. Sebaliknya sikap ini mendorong kita untuk selalu melihat
hal-hal belum maksimal dan punya potensi untuk dikembangkan. Rasa humor
terhadap diri sendiri, juga akan mampu memacu kreativitas dalam diri untuk
selalu mencari sisi-sisi yang belum tereksplorasi.
Hampir senada
dengan penjelasan dimuka, Rita dan Ian[4] menjelaskan
tentang Pola pikir wirausaha (Entrepreneurial Mindset) sebagai berikut:
- Mereka, secara bersemangat, selalu mencari peluang-peluang baru.
- Mengeksplor berbagai kesempatan dengan pendekatan/disiplin yang tidak biasa
- Mereka secara efektif hanya mengeksplor peluang terbaik dan menjauhi berlelah-lelah dengan mengejar setiap kesempatan
- Mereka fokus pada eksekusi, terutama eksekusi yang adaptif.
- Mereka menyatukan energi setiap orang dalam domain mereka
Berbasis penuturan dimuka,
semakin jelaslah bahwa ranah kewirausahaan memang tidak saja di transaksi
keuangan bisnis. Namun lebih jauh dari itu, terminologi entrepreneurship juga
mencakup sikap, karakter, antusiasme, dan pola pikir. Oleh karena itu, melalui
buku ini, penulis mengajak seluruh pembaca yang budiman untuk menyelami wacana
ini lebih dalam
